ME Time
“You ain’t gonna miss your water until your well runs dry.”
~ Bob Marley quotes (Jamaican Singer, Composer and Guitarist. 1945-1981)
Hahh, bener banget!
2 minggu kemarin gw amat sangat menderita gara-gara INI.
Hari pertama, gw kira gw kena masuk angin biasa. Dan gw dengan PeDe-nya yakin banget kalo gw ini masih sehat & kuat-kuat aja buat ngapa-ngapain. Saking jarangnya gw ada pengalaman sakit (yang sampe wajib bedrest), gw jadi ngga tau kapan harus istirahat & kapan badan gw ngga bisa diforsir lagi.
Disuruh ke dokter, gw masih ngeyel ngga mau. Di otak gw sih cuma, “Cih, gini doang. Manja banget sih klo pake ke dokter segala.” Hahahaha, arogan benerrr. :))
Tiga hari setelah gejala ngga berkurang, akhirnya gw mau ke dokter. Ternyata bener deh, gw kena INI. Dan gw tetep ngantor seperti biasa, padahal sebenernya badan udah keringet dingin nahan sakit, ampe nyokap rada geleng-geleng. Gw cuma kepikiran dateline-dateline yang belum kelar & lain sebagainya. Dan gw tetep yakin kalo gw ini masih kategori SEHAT. Yayy.
Seminggu berlalu tanpa kesembuhan yang berarti, dengan aktivitas gw yang tetap sama seperti hari biasa di mana gw beneran sehat.
Puncaknya pas di pernikahan sepupu gw. Entah karena gw kecapean karena banyak jalan-jalan atau gimana. Harusnya gw ngebantuin jadi penerima tamu, ehh udah disanggul segala, tiba-tiba gw ngerasa badan gw ngga enak banget. Pengen istirahat sih, tapi…
Tapi gw masih kepikiran sodara gw, gw kasian aja kalo penerima tamunya kurang satu, gw ngga enak ninggalin kakak gw & sepupu gw yg bertugas jadi penerima tamu jg, gw juga ngga enak karena kebaya udah jadi dijahit & di-fitting khusus buat hari itu, ga enak ama nyokap yang udah bantuin masang jarik, ga enak sama perias & penyanggul *halah, istilahnya*, et cetera, et cetera…
SEMUA orang udah repot-repot demi hari itu. Kenapa gw juga ngga bisa nahan sedikit lagi. Tapi lucunya, SEMUA orang juga nyaranin supaya gw istirahat gara-gara prihatin ngeliat tampang gw yang “udah-parah-banget” (sial). Akhirnya gw nyerah.
Dan selama resepsi berlangsung akhirnya gw ngedekam aja di kamar hotel.
Nyeduh milk tea.
Nontonin sinetron ga jelas dan menertawakan akting para pemainnya.
Pengen muntah. Eh ini gara-gara muak liat sinetron ga mutu itu ya, bukan karena sakit.
Ganti channel.
Nonton HBO.
Ngerapihin kamar “medan perang” tempat kita semua dandan dan siap-siap tadi.
Rebahan di tempat tidur dengan seprai yang masih baru & bantal yang fluffy.
Meredupkan cahaya lampu ruangan.
Menikmati suasana sepi setelah semua orang pergi ke ballroom tempat pesta berlangsung.
Merenungi hal-hal penting yang ngga penting.
Mendengarkan diri sendiri.
Only me, myself, and I.
Enjoying “ME-Time”.
Hahh… menyenangkan.
Setelah beberapa hari sebelumnya banyak dateline & tenggelam dalam ke-hectic-an yang merajalela,
waktu SEKARANG ini,
saat “ME-Time” gw ini,
benar-benar terasa menyenangkan.
Kapan-kapan lagi ahhh. :)
Bukan. Bukan sakitnya. Tapi enjoying ME-time nya.
+ + + + +
…
Dan hebatnya,
resepsi tetap berlangsung dengan baik TANPA gw.
Hahaha… kalo gitu kapan-kapan gw bolos kantor ah.
Kerjaan-kerjaan gw titipin ke ES & AD aja, hihihihi…
I hope they didn’t read my blog.
“OK, noted.”
:))
Great Expectation
Okay, here’s the thing..
Have you recognized that we probably expect more “things” to people whom you love deeply? And if they couldn’t give us “things” that we expected from them, then we feel so disappointed and usually become really mad at them. And I have to warn you that “they” in this case not only refers to our partner/spouse, but also refers to : bestfriends, parents to their children, teachers to their students, and so on.
Usually we act more flexible & more understanding with the others whose relationship are not so close with us.
I think that’s what I called an “unhealthy relationship”…
…
Aahh capek bikin essai pake bahasa Inggris,
hahaha at least I have tried… Ya tohh?? :P
…
Okeh, lanjut.
Coba deh dipikir-pikir, kesimpulan gw bener kan?
Biasanya kita lebih sabar & pengertian justru ke orang-orang yang ngga kita kenal dekat. Karena ekspektasi kita ke mereka biasanya lebih RENDAH dibandingkan dengan orang yang sudah dekat dengan kita.
Sebaliknya, semakin kita menyayangi seseorang, terkadang kita dengan PD-nya merasa orang itu sudah mengenal kita dengan sebegitu baiknya, sehingga kita mengharapkan sesuatu yang lebih baik, lebih tinggi, dan “lebih” “lebih” lainnya. Karena kita “merasa” kita juga melakukan hal yang “lebih” untuk mereka.
Dengan kata lain, ekspektasi kita lebih BESAR terhadap mereka. Dan begitu orang-yang-kita-pedulikan itu melakukan hal yang mengecewakan kita, maka hasilnya kekecewaan kita bakal lebih parah & lambat laun akan merusak hubungan kita dengan orang-yang-kita-pedulikan tersebut.
Been there, done that. Thing that I learned the hard way, though. And sadly, I knew some people who broke their relationship with their loved one just because of that. Until now. *Sigh*
Jadi solusinya?
Buang ego, lebih ikhlas kalau care sama orang, turunkan tingkat ekspektasi kita terhadap mereka, dan komunikasikan kepada mereka kalau “…saya lebih suka apabila kamu melakukan dengan cara seperti ini. Tapi saya tetap peduli terhadap kamu, apa pun yang terjadi.”
Apabila mereka tidak berhasil mencapai ekspektasi yang kita harapkan, ya sudah, take it easy, don’t make it like such a drama… They are still the people we love, right?
Dan kalau kita ada di posisi sebaliknya? Yakni sebagai orang yang sudah mengecewakan orang yang kita pedulikan?
Mungkin satu-satunya cara:
Pertama, akui bahwa kita salah (walaupun sebenarnya kita yakin kita yang benar) & katakan bahwa kita sedih karena tidak berhasil mencapai ekspektasi yang mereka harapkan. Hindari adu argumen karena di sini ego bakal banyak berperan. Dan beneran deh, ngga bakal ada hasil positifnya. Kalau bisa, minta saran kepada mereka, apa yang harus kita lakukan agar bisa mencapai –minimal “mendekati”– hasil yang seperti mereka harapkan. Apabila hasil yang mereka harapkan tidak sesuai dengan yang kita inginkan, katakan terus terang & sebisa mungkin cari titik tengahnya.
Kedua, yakinkan diri sendiri bahwa mereka marah & kecewa sedemikian dalamnya terhadap kita, karena mereka SANGAT peduli terhadap kita.
Gw ngga bilang ini gampang, tapi paling engga kita udah mencoba yang terbaik untuk meminimalisir rasa kecewa mereka.
Intinya di sini, kita tetap berusaha agar hubungan yang sudah terjalin dengan baik akan tetap baik selama mungkin.
Yah, mudah-mudahan tulisan ini berguna bagi yang baca. Miris aja gitu, hubungan yang tadinya baik jadi rusak gara-gara ego & ekspektasi yang ketinggian. Kadang-kadang, ngomong “ma’af” untuk memperbaiki hubungan itu bukan berarti kita ada di pihak yang kalah, justru tindakan itu malah membuktikan bahwa kita adalah pihak yang berpikiran lebih DEWASA daripada mereka yang tidak melakukannya.
Take it easy.
Let it go.
